Home > Uncategorized > Kekerasaan Terhadap Perempuan di TIMOR TIMUR dan Bagaimana Cara Penyelesaiannya

Kekerasaan Terhadap Perempuan di TIMOR TIMUR dan Bagaimana Cara Penyelesaiannya

Proses demokratisasi di Indonesia yang memaksa Suharto turun dari tampuk kekuasaan di Indonesia pada bulan Mei 1998 telah membawa sedikit perubahandi Timor Timur.Di tingkat kebijakan, pernyataan ini membuka jalanuntuk sebuah kesepakatan antara Indonesia dan Portugal pada tanggal 5 Mei1999 yang memungkinkan Sekjen PBB melakukan Konsultasi Popular dengan rakyat Timor Timur tentang diterima atau ditolaknya otonomi yang ditawarkanpemerintah Indonesia.  Namun kebijakan ini tidak diiringi dengan kemajuanyang memadai di lapangan. Di Timor Timur justru muncul kelmpok-kelompokmilisi yahng mulai melakukan aksi teror terhadap masyarakat. Sejak akhir1998, paling sedikit 22 kelompok milisi baru telah dibentuk dandipersenjatai, menambah banyaknya kelompok milisi yang telah ada sejakpertengahan tahun 80-an.  Aktivitas milisi menyebabkan ketakutan diseluruh pelosok Timor Timur.  Walaupun kehadiran PBB di Timor Timur telah memberisedikit keamanan di Dili, hal yang sama tidak dapat dirasakan masyarakat diwilayah-wilayah lain di luar Dili, khususnya di sektor Barat.  LSM danlembaga-lembaga PBB memperkirakan 40.000 sampai 60,000 pengungsi di Timor Timur.

Forum Komunikasi Perempuan Lorosae (Fokupers), sebuah organisasi yangbekerja untuk hak asasi dan pemberdayaan perempuan, telah mencatatpeningkatan angka kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yangditinggalkan oleh anggota keluarga laki-laki yang bersembunyi atau dipaksa untuk masuk milisi, menanggung beban keluarga yang semakin berat. Dalam kondisi seperti itu, para perempuan tersebut juga menjadi semakin rentankekerasan seksual. Pengungsi perempuan juga menjadi target kekerasan dalampengungsian.  Fokupers juga mendampingi perempuan korban kekerasan yangkembali mengalami trauma dari meningkatnya ketegangan di lingkungannya.
 
Kasus pelanggaran HAM
(Waktu, tempat, pelaku serta korban)
 
1.      26 Pebruari 1999
Fina, 27 tahun, dari Desa Manutasi, Kab.Ainaro ditangkap bersama anaknya yang berusia 2 tahun oleh sekelompokanggota Mahidi.  Korban dan anaknya disandera selama seminggu. Selama dalampenyanderaan, korban telah mengalami penganiayaan.
2.      19 Maret 1999
Asia 17 tahun, dari desa Ritabou-Moleana, mengalami penyerangan oleh milisi Halilintar. Tepat pukul 18.00 WITA rumah keluarga korban diserang oleh milisi yang berpakaian ala ninja.  Para milisi melepaskan tembakan secara membabi buta ke dalam rumah. Korban terkena tembakan dan mengalami luka parah di bagian dada dan tangan kiri sehingga harus dioperasi.
3.      6 April 1999
23 orang perempuan-Zinha (27 tahun), Ana, Tina (30tahun), Lina (20 tahun), Dita (17 tahun), Mena (18 tahun), Ria (16 tahun),Mapha (18 tahun), Tabe (25 tahun), Rina (20 tahun), Ceia ( 23 tahun), Adina(18 tahun), Aluci (20 tahun), Aria (21 tahun), Mica (18 tahun), Ali (18tahun), Ana (23 tahun), Ladina (20 tahun),  Rosa (18 tahun), Meli (28tahun), Osa (17 tahun), Ita (21 tahun),  dan Neta (16 tahun)-ditahan secara paksa oleh BMP di pos BMP di desa Gukleur. Mereka di tahan tanpa suatu kesalahan apapun dan para korban diperlakukan secara tidak manusiawi, termasuk dipaksa untuk memasak dan mencuci pakaian BMP, serta menjadi korban pelecehan seksual.
4.      21 Mei 1999
Anina (30 tahun) ibu rumah tangga, Desa LetefohoSame, ditangkap oleh milisi ABLAI dan kemudian dibawa ke Markas ABLAI untuk diinterogasi karena korban dituduh mengirim makanan ke Falintil.Selama di tahan korban disiksa, dicaci maki, difitnah dan dipekerjakan untuk mencuci pakaian dan memasak untuk team ABLAI.  Korban diancam untuk dibunuh bila suami korban tidak turun ke kota.  Pada tanggal 28 Mei 1999 korban dibebaskan oleh Bupati Same yang kebetulan berkunjung ke tempat tersebut.
5.      1 Juni 1999
Moris Terus (25 tahun), desa Hospilat, Kecamatan Suai,  sedang menjaga rumah omnya yang telah melarikan diri. Jam delapan malam, 20 orang bersenjata pisau,parang, granat, dan senjata api, anggota Laksaur, mendatangi rumah mereka. Milisi masuk secara paksa ke dalam rumah, memukul kakak laki-laki korban, dan meminta untuk mereka menunjukkan dimana pamannya berada.  Karena korban dan keluarganya tidak bersedia, maka milisi mengatakan akan bermalam dirumah tersebut.  Setelah menuntut diberi makan, komandan Laksaur meminta Morisuntuk tidur bersamanya.Korban dibanting ke atas tempat tidur dan diperkosa dengan kasar.

Penyelesaian

Melihat situasi yang berkembang, Fokupers menuntut:

1.  Melalui aparat penegak hukum, menindak tegas para pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan, baik militer maupun sipil, sesuai hukum yang berlaku, serta menjamin keamanan dan keselamatan korban yang melaporkan kasusnya.

2.  Membubarkan dan melucuti senjata dari para milisi di seluruh Timor Timur serta memberi sumberdaya dan perhatian serius untuk melakukan intervensi yang peka pada kebutuhan perempuan.

3. Pemerintah Timor Leste dan Indonesia menyepakati untuk melaksanakan rekomendasi dan saran yang dihasilkan Komisi Kebenaran dan Persahabatan atau KKP. KKP dibentuk kedua negara sehingga penyelesaian kasus pelanggaran hak asasi manusia terkait jajak pendapat di Timor Leste, yang saat itu bernama Timor Timur, tahun 1999 lebih mengutamakan perdamaian dan persahabatan.

Categories: Uncategorized
  1. May 27, 2011 at 11:21 am

    test comment

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: