Home > filsafat > Epistimologi Ilmu Pengetahuan

Epistimologi Ilmu Pengetahuan

A. Sekilas Tentang Epistemologi

            Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, serta validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Atau dengan kata lain epistemologi merupakan cabang filsafat tentang pengetahuan yang mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula pengetahuan, perihal mengetahui, mengenai cara mengetahui atau memperoleh pengetahuan, dan bagaimana menguji kebenaran pengetahuan.[1] Atau juga bisa didefinisikan bahwa sanya epistemologi merupakan cabang filsafat yang secara khusus membahas proses keilmuan manusia[2]. Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates  the origin, structure, methods and validity of knowledge[3].
Perbedaan landasan ontologi menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Akal, akal budi, pengalaman, atau kombinasi akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologi, sehingga dikenal model-model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, rasionalisme kritis, positivisme, fenomenologi dan sebagainya. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologi beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah), seperti teori koherensi, korespondesi pragmatis, dan teori intersubjektif.

            Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan dipercaya. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan, cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji.

            Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa, matematika dan statistika.

            Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghubung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau juga naluri) dapat diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak.

            Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada, dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah.

            Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan berkembang.

 B. Metode Ilmiah

            Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Akan tetapi, tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetauan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Ada pula referensi lain yang menyebutkan bahwasanya metode ilmiah merupakan sintesis antara berpikir rasional dan bertumpu pada data emperis.[4]

            Menurut Senn, metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa metodologi ilmiah merupakan pengkajian dan peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metodologi ini secara filsafati termasuk dalam apa yang dinamakan Epistemologi. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: Apakah sumber-sumber pengetahuan?, Apakah manusia dimungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan?, Apakah hakikat, jangkauan, dan ruang lingkup pengetahuan?, Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk dijangkau oleh manusia?.

            Seperti diketahui, berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metodologi ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah. Dalam hal ini, maka metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya. Adapun selaku alat atau media operasionalisasi metode ilmiah adalah bahasa, matematika, dan instrumen laboratorium.[5]

            Metode  ilmiah  mempunyai  mekanisme  umpan  balik  yang  bersifat  korektif  yang memungkinkan   upaya   keilmuan   menemukan   kesalahan   yang   mungkin   diperbuatnya. Sebaliknya bila ternyata bahwa sebuah pengetahuan ilmiah yang baru adalah benar, maka pernyataan  yang  terkandung  dalam  pengetahuan  ini  dapat  dipergunakan  sebagai  premis baru, yang bila kemudian ternyata dibenarkan dalam proses pengujian akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang baru pula.[6]

            Pada dasarnya ilmu dibangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit di mana para ilmuwan memeberikan sumbangannya menurut kamampuannya. Tidaklah benar bahwa ilmu dikembangkan hanya oleh para jenius saja yang bergerak dalam bidang keilmuan. Ilmu secara kuantitatif dikembangkan oleh masyarakat keilmuan secara keseluruhan, meskipun secara kualitatif beberapa orang jenius seperti Newton atau Einstein merumuskan landasan-landasan baru namun kesemuanya itu bersifat mendasar.

            Dalam metode ilmiah, ilmu pengetahuan dikembangkan dengan menerapkan baik logika induktif maupun logika deduktif, secara serentak.[7] Dalam buku lain ditambahkan lagi beberapa pola, yaitu pola probabilistik, fungsional atau teologis, serta genetik.[8] Alur yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah-langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

1. Perumusan Masalah yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.

2. Penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argunetasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk permasalahan. Kerangka berfikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.

3. Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikir yang dikembangkan. Jika suatu hipotesa dirumuskan, maka perlu sekurang-kurangnya dua bahan-bahan bukti yang bisa mendukungnya: (1) Bahan-bahan keterangan yang diketahui harus cocok dengan hipotesa tersebut, dan (2) hipotesa itu harus meramalkan bahan-bahan keterangan yang sedang diamati. [9]

4. Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

5. Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya, sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni memiliki kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran disini harus ditafsirkan secara fragmatis artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang menyatakan sebaliknya.

            Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersusun dalam urutann yang teratur, di mana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya, namun dalam prakteknya sering  terjadi lompatan-lompatan. Hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata-mata mengandalkan penalaran, melainkan juga imajinasi dan juga kreativitas. Sering terjadi bahwa langkah yang satu bukan saja landasan bagi langkah yang berikutnya, namun sekaligus juga merupakan landasan koneksi bagi langkah yang lain. Dengan jalan ini diharapkan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.

C.  Teori Kebenaran

            Jika  seseorang  mempermasalahkan  dan  ingin  membuktikan  apakah  pengetahuan itu bernilai benar, menurut para ahli epostemologi dan ahli filsafat, pada umumnya untuk membuktikan bahwa pengetahuan bernilai benar, seseorang menganalisis terlebih dahulu cara, sikap   dan   sarana   yang   digunakan   untuk   membangun   suatu   pengetahuan. Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kebenaran (Surajiyo, 2005)   antara lain sebagai berikut:

1.   The   correspondence   theory   of   truth   (Teori   Kebenaran   Saling   Berkesesuian).

      Berdasarkan  teori  pengetahun  Aristoteles  yang  menyatakan  bahwa kebenaran  itu berupa  kesesuaian  antara  arti  yang  dimaksud  oleh  suatu  pendapat  dengan  apa  yang sungguh merupakan halnya atau faktanya. Teori ini biasanya dianut oleh para pengikut realisme, dan mereka berpegang teguh pada kemandirian fakta-fakta atau hakekat yang tidak ideal dari fakta-fakta.[10]

2.   The  Semantic  Theory  of  Truth  (Teori  Kebenaran  berdasarkan  Arti).

            Berdasarkan Teori  Kebenaran  Semantiknya  Bertrand  Russell,  bahwa kebenaran (proposisi)  itu ditinjau dari segi arti atau maknanya.

3.   The consistence theory of truth (Teori Kebenaran berdasarkan  Konsisten).    Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

4.   The  pragmatic  theory  of  truth  (Teori  Kebenaran  berdasarkan  Pragmatik).

            Yang dimaksud dengan teori ini ialah bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata  bergantung  kepada  berfaedah  tidaknya  ucapan,  dalil, atau  teori  tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Para penganut pragmatisme meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu macam konsekuensi. William James, misalnya, mengatakan bahwa proposisi ‘Tuhan ada’ adalah benar bagi seseorang yang hidupnya mengalami perubahan karena percaya adanya Tuhan.[11]

5.   The    Coherence    Theory    of    Truth(Teori    Kebenaran    berdasarkan    Koheren)

      Teori koherensi tentang kebenaran biasanya dianut oleh para pendukung idealisme, seperti filsuf Brityania F.  H. Bradley (1845-1924).[12]  Berdasarkan teori Koherennya Kattsoff (1986) dalam bukunya Element of Philosophy, bahwa  suatu  proosisi  itu  benar,  apabila  berhubungan  dengan  ide-ide  dari  proposisi terdahulu yang telah dan benar.

6.   The   Logical   Superfluity   of   Truth   (Teori   Kebenaran   Logis   yang   berlebihan).

      Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Ayer,   bahwa problema kebenaran hanya merupakan  kekacauan  bahasa  saja  dan  berakibatkan  suatu  pemborosan,  karena  pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama yang masing-masing saling melingkupi.

7. Teori  Skeptivisme.

            Seorang penganut skeptimisme mengingkari adanya apa yang dinamakan pengetahuan, atau jika kurang ekstrim, ia mungkin mengatakan, sesungguhnya tidak ada cara untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan.[13] Suatu  kebenaran  dicari  ilmiah  dan  tidak  ada  kebenaran  yang lengkap.

8. Teori   Kebenaran   Nondeskripsi.

      Teori   yang   dikembang   oleh   penganut   filsafat fungsionalisme, yang menyatakan bahwa suatu statemen atau pernyataan mempunyai nilai   benar amat tergantung peran dan fungsi dari pada pernyataan itu.

            Kebenaran dapat dibuktikan secara :

a)       Radikal (Individu)

b)      Rasional (Obyektif)

c)       Sistematik (Ilmiah)

d)      Semesta (Universal)

       Sedangkan  nilai  kebenaran  itu  bertingkat-tingkat,  sebagai  mana  yang telah  diuraikan oleh Andi Hakim Nasution dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sains, bahwa kebenaran mempunyai  tiga  tingkatan,  yaitu  haq  al-yaqin,  ‘ain  al-yaqin,  dan  ‘ilm  al-yaqin.

Adapun kebenaran menurut Anshari mempunyai empat tingkatan, yaitu:

1)        Kebenaran wahyu

2)        Kebenaran spekulatif  filsafat

3)        Kebenaran positif  ilmu pengetahuan

4)        Kebenaran pengetahuan biasa.

            Pengetahuan  yang dibawa  wahyu  diyakini  bersifat  absolut  dan  mutlak  benar,  sedang pengetahuan  yang  diperoleh  melalui  akal  bersifat  relatif,  mungkin  benar  dan  mungkin salah. Jadi, apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu  di  dalam  nalar  kita  yang  salah.  Demikian  pula  apa  yang  kita  yakini  karena  kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Karena  itu,  kebenaran  mutlak  hanya  ada  pada  Tuhan.  Itulah  sebabnya  ilmu  pengetahan selalu berubah-rubah dan berkembang.

            Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa kita tuntut pembuktiannya. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahkan lewat sebuah proses yang disebut metode keilmuan. Postulat ilmiah ditetapkan tanpa melakukan prosedur ini, melainkan ditetapkan secara begitu saja. Secara filsafati sebenarnya eksistensi postat ini tidak sukar untuk dimengerti, mengapa kehadirannya menyimpang dari prosedur yang ada, sebab bukanlah sebuah argumentasi harus didasarkan kepada sesuatu? Seperti kita ingin mengelilingi sebuah lingkaran, maka kita harus mulai dari sebuah titik; dan postulat adalah ibarat titik dalam lingkaran yang eksistensinya kita tetapkan secara sembarang.[14]

  1. D.      Kekurangan dan Kelebihan Berpikir Secara Ilmiah

            Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya, asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai berikut:

(a)                Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek material yang dapat di indera. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang asli. Dan melakukan pengamatan terhadap materi tersebut serta berbagai kondisi dan faktornya yang ada, baik yang alami maupun yangtelah mengalami perlakuan. Dari proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa fakta materialyang dapat diindera.

(b)                Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi. Ini dikarenakan metode ini mengharuskan kita untuk menghapuskan diri dari setiap opini dan keyakinan si peneliti mengenai subjek kajian. Setelah melakukan pengamatan dan percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan bersarkan sejumlah premis-premis ilmiah.

(c)                Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu. Demikian juga   halnya   dengan bidang sastra yang termasuk dalam humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya.

            Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Dikatakan, bahwa “Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang memisahkan antara ilmu dan agam perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam memecahkan masalah tersebut”.

            Dikatakan pula, “proses pengujian ini tidak sama dengan pengujian ilmiah yang berdasarkan kepada tangkapan pancaindra, sebab pengujian kebenaran agama harus dilakukan oleh seluruh aspek kemanusiaan kita seperti penalaran, perasaan, intuisi, imajinasi di samping pengalaman”. “Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu. demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya”.

            Muhammad Abdurrahman dalam bukunya at-Tafkeer juga mengatakan hal senada dengan yang telah disebutkan di atas. Ia mengatakan, bahwa metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu yang termasuk dalam humaniora, hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.

            Walaupun Banyak kekurangan, berpikir secara ilmiah juga memiliki kelebihan. Kegiatan berfikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah. Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berfikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah – langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi hipotesis, menarik kesimpulan. Kesemua langkah – langkah berfikir dengan metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat atau sarana yang baik sehingga hasil dari berfikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik. Dengan berpikir secara ilmiah maka akan menghasilkan pemikiran yang ilmiah juga

E. Implikasi Yang Dihasilkan Oleh Metode Ilmiah Terhadap Ilmu Pengetahuan.

            Diperlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya para ilmuan dapat memiliki landasan berpijak yanga kuat, ilmu alam secara garis besar mesti dikuasai, demikian pula halnya dengan ilmu sosial, sehingga antara ilmu yang satu dengan yang lain saling menyapa, bahkan mencipta suatu harmoni yang dapat memecahkan persoal-persoalan kemanusiaan.
Kesadaran seorang ilmuwan tidak semata berfikir murni pada bidangnya saja, tanpa mengaitkan dengan kenyataan diluar dirinya ini akan terlihat seperti menara gading, setiap aktivitas keilmuwan tidak terlepas dari konteks kehidupan sosial kemasyarakatan.

            Berfikir secara ilmiah dapat menyadarkan seorang ilmuan agar tidak terjebak dalam pola pikir “menara gading”, yakni hanya berfikir murni dalam bidangnya, tanpa mengaitkannya dengan kenyataan yang ada di luar dirinya. Padahal di setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial-kemasyarakatan.[15]

            Dengan menggunakan metode ilmiah, suatu ilmu akan bersifat lebih kritikal, lebih mendalam, lebih terkontrol dan sangat ketat dalam penelitian dan penganalisaannya. Mengapa demikian? Karena dalam metode ilmiah, kita akan menggunakan metode observasi, kita akan dilatih untuk mengadakan  observasi dengan metode ilmiah. Dengan melakukan percobaan berulang-ulang seperti itu, kita akan lebih berhati-hati terhadap kemungkinan kekeliruan yang terjadi dan lebih akurat lagi dalam penghitungannya.[16]

            Dengan kata lain, implikasi yang dihasilkan oleh metode ilmiah terhadap ilmu pengetahuan adalah: Dengan melakukan penelitian bermetode-kan ilmiah, akan dihasilkan suatu ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan.

BAB III

KESIMPULAN

A.  Kesimpulan

            Dari semua penjabaran diatas, kita dapat mengambil sedikit kesimpulan bahwa epistemologi atau filsafat pengetahuan sangatlah penting dalam pembelajaran filsafat ilmu. Diantara filsafat pengetahuan tersebut terdapat metode ilmiah yang tak kalah penting untuk dipelajari.

Metode  ilmiah  mempunyai  mekanisme  umpan  balik  yang  bersifat  korektif  yang memungkinkan   upaya   keilmuan   menemukan   kesalahan   yang   mungkin   diperbuatnya. Dalam metode ilmiah terdapat Langkah-langkah kegiatan berpikir ilmiah, antara lain:  perumusan masalah,  penyusunan kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis,  perumusan hipotesis, serta yang terakhir  penarikan kesimpulan.

Dalam metode ilmiah pun terdapat kekurangan dan kelebihan. Diantara kekurangannya adalah: metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek material yang dapat di indera, metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan masih banyak lainnya. Disamping terdapat kekurangan, berpikir secara ilmiah juga memiliki kelebiahan yaitu, hasil dari pemikirannya akan lebih dipercaya orang lain karena disertakan bukti-bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.

 DAFTAR PUSTAKA 

Kattsoff, Louis O. 2006. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Mustansyir, Rizal. 2006. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muslih, muhammad. 2008. Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.Yogyakarta: Belukar

Salam, Burhanuddin. 2003. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.

Salam, Burhanuddin. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedojo, Peter. 2004. Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tafsir, Ahmad. 2007. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: Rosda


[1] Peter Soedjono, Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, hal.50

[2] Muhammad Muslih,  Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, Hal.28

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Hal.23

[4] Burhanuddin Salam, Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi, hal.22

[5] Peter Soedjono, Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, hal. 49

[6] Jujun S.S., Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, hal. 141

[7] Ibid,  hal. 48

[8] Ibid,  hal 142

[9] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Hal. 144

[10] Ibid, hal. 179

[11] Ibid, hal.182

[12] Ibid, hal. 176

[13] Ibid, hal.147

[14] op cit. Jujun S.S., hal. 155

[15] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, hal. 53

[16] Burhanudin Salam, Pengantar Filsafat, hal. 37

Categories: filsafat
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: