Home > filsafat > Aksiologi Ilmu Pengetahuan

Aksiologi Ilmu Pengetahuan

Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. Ilmu telah banyak mengubah wajah dunia seperti hal memberantas penyakit,kelaparan,kemiskinan, dan berbagi wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan kemudahan lainnya seperti transportasi, komunikasi, dan lain sebagainya. Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.

Ilmu harus diletakkan secara proposional dan memihak pada nilai-nilai kebaikan dan kemanusian. Sebab, jika ilmu tidak berpihak kepada nilai-nilai, maka yang terjadi adalah bencana dan malapetaka. Berbicara mengenai nilai, didalam filsafat ilmu nilai diartikan sebagai aksiologi atau disebut dengan teori nilai.

[1]Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari bahasa yunani kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan kata”logos” yang berarti teori. Jadi, aksiologi adalah merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Secara singkat, aksiologi adalah teori nilai. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan, aksiologi disamakan dengan value valuation. Ada tiga bentuk value valuation :

  1. Nilai, digunakan sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik,menarik,dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakupi sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, dan kesucian. Penggunaan nilai yang lebih luas, merupakan kata benda asli untuk seluruh macam kritik atau predikat pro dan kontra, sebagai lawan dari suatu yang lain dan ia berbeda dengan fakta. Teori nilai atau aksiologi adalah bagiaan dari etika dan alat untuk mencapai beberapa tujuan, sebagai nilai instrumental atau menjadi baik atau sesuatu menjadi menarik, sebagai nilai inheren atau kebaikan seperti estetis dari sebuah karya seni, sebagai nilai instrinsik atau menjadi baik dalam dirinya sendiri, sebagai nilai contributor atau nilai yang merupakan pengalaman yang memberikan kontribusi.

 [1]Sadulloh uyoh.Drs.M.P.d, Pengantar filsafat pendidikan, Alfabeta, Bandung 2003

  1. Nilai sebagai kata benda konkrit. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai. Kemudian dipakai untuk segala sesuatu yang memiliki nilai atau bernilai sebagaimana berlawanan dengan segala sesuatu yang tidak dianggap baik atau bernilai.
  2. Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, member nilai, dan dinilai. Menilai umumnya sinonim dengan evaluasi ketika hal tersebut secara aktif digunakan untuk menilai perbuatan.

[2]Pendapat Dagobert Runes pada buku yang berjudul pengantar filsafat pendidikan yang ditulis oleh Drs.Uyoh sadulloh,M.p.d mengemukakan beberapa persoalan yang berkaitan dengan nilai yang mencakup: hakikat nilai, tipe nilai, kriteria nilai, status metafisika nilai, dan karakteristik nilai.

Hakikat nilai

Mengenai hakikat nilai, banyak teori yang dikemukakannya, diantarannya teori voluntarisme. Teori voluntarisme mengatakan nilai adalah suatu pemuasan terhadap keinginan atau kemauan. Kaum hedonism menyatakan, bahwa hakikat nilai adalah “ pleasure” atau kesenangan. Semua kegiatan manusia terarah pada pencapaian kesenangan. Menurut formalism, nilai adalah kemauan yang bijaksana yang didasarkan pada akal rasional. Menurut pragmatism, nilai itu baik apabila memenuhi kebutuhan dan memiliki nilai instrumental, yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jadi ilmu pengetahuan jika dipandang menurut hakikat nilai yaitu, ilmu tersebut  harus bisa menjadi alat untuk mencapai sebuah tujuan atau ilmu harus bisa menyelesaikan permasalah yang terjadi  menurut bidang keilmuan masing-masing.

Tipe nilai

Tentang tipe nilai dapat dibedakan antara nilai instrinsik dan nilai instrumental. Nilai instrinsik merupakan nilai akhir yang menjadi tujuan, sedangkan nilai instrumental adalah sebagai alat untuk mencapai nilai instrinsik. Nilai instrinsik adalah sesuatu yang memiliki harkat atau harga dalam dirinya, dan merupakan tujuan sendiri. Sebagai contoh, nilai keindahan yang dipancarkan oleh suatu lukisan itu berada akan selalu indah. sholat lima waktu yang dilakukan oleh setiap musim memiliki nilai instrinsik dan sekaligus memiliki nilai instrumental. Nilai instrinsiknya adalah bahwa sholat merupakan suatu perbuatan yang sangat luhur dan sangat terpuji sebagai slah satu pengabdian kepada Allah SWT yang menjadi penguasa seluruh alam jagad raya. Nilai instrumentalnya adalah bahwa dengan melakukan sholat yang ikhlas sebagai pengabdian kepada Allah SWT, orang yang melakukan Sholat tersebut bisas mencegah perbuatan jahat dan perbuatan yang dilarang oleh Allah, yang pada gilirannya manusia akan mendapat kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat, yang merupakan nilai akhir dari kehidupan manusia. Begitu juga ilmu pengetahuan harus memiliki nilai instrinsik dan instrumental misalnya bila ilmu pengetahuan ingin mencapai puncak keilmuan maka ilmu tersebut harus bermanfaat dan dibutuhkan sehingga bisa terus berkembang dan mencapai puncak keilmuan.

Kriteria nilai

Yang dimaksud dari criteria nilai adalah sesuatu yang menjadi ukuran dari nilai tersebut, bagaimana yang dikatakan  nilai yang baik, dan bagaimanan yang dikatakan nilai yang tidak baik. Kaum hedonisme menemukan ukuran nilai dalam sejumlah “kesenangan” yang dapat dicapai oleh individu atau masyarakat. Bagi kaum pragmatis, yang menjadi criteria nilai adalah “kegunaannya” dalam kehidupan, baik bagi individu maupun masyarakat. Ilmu pengetahuan harus memiliki criteria nilai keilmuan agar ilmu tersebut dapat di ukur dan diketahui baik maupun buruk serta dampak positife maupun negativenya tentang ilmu tersebut apakah berguna atau malah merugikan bagi masyarakat.

Status metafisika nilai

Yang dimaksuf dengan status metafisika nilai adalah bagaimana hubungan nilai-nilai tersebut dengan realitas. Dalam hal ini dagobert runes mengemukakan tiga jawaban:

  1. Subjectivisme : value is entirely dependent on and relative human experience of it;
  2. Logical objectivisme, value are logical essences or subsitences independent of their being known, yet not exsistensial status of action in reality;
  3. Metaphysical objectivisme, values or norms or ideal are integral, objective, an active constituents of the metaphysical real.

[2] Sadulloh uyoh.Drs.M.P.d, Pengantar filsafat pendidikan, Alfabeta, Bandung 2003

Menurut subjektivisme, nilai itu berdiri sendiri, namun bergantung dan berhubungan dengan pengalaman manusia. Pertimbangan terhadap nilai berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Menurut objektivime logis, nilai itu wujud, suatu kehidupan yang logis tidak terkait pada  kehidupan yang dikenalnya, namun tidak memiliki status dan gerak di dalam kenyataan. Menurut objektivisme metafisik, nilai adalah suatu yang lengkap,objektif, dan merupakan bagian aktif dari realitas metafisik.

[3]Karakteristik nilai

Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai,yaitu :

Nilai objektif atau subjektif

Nilai itu objektif jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai; sebaliknya,  nilai itu ‘subjektif’ jika eksistensinya,maknanya,dan validasinya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifa psikis ataupun fisik.

Suatu nilai dikatakan objektif apabila nilai tersebut memiliki kebenarannya tanpa memperhatikan pemilihan dan  penilaian manusia. Nilai-nilai baik,benar, cantik, merupakan realitas alam, yang merupakan begian dari sifat-sifat yang dimiliki oleh benda atau tindakan tersebut. Benda-benda tersebut secara objektif bagus, tindakan  tertentu secara inheren adalah baik. Suatu benda adalah indah, karena memang  keindahan barang tersebut dimilikinya. Ilmu pengetahuan  memiliki nilai objektif, karena tanpa dinilai oleh manusiapun, Ilmu pengetahuan  secara  inheren adalah baik, siapapun akan mengakui bahwa Ilmu pengetahuan  adalah berharga.

Nilai  itu subjektif apabila nilai tersebut memiliki preferensi pribadi, dikatakan baik karena dinilai oleh seseorang, apapun baik atau berharga bukan karena dalam dirinya, melainkan karena manusia telah menilainya. Ilmu pengetahuan berharga sebagai hasil penilaian manusia, atau karena manusia menilainya berharga.

[3] Sumarna cecep.Drs.M.Ag, Filsafat ilmu dari hakikat menuju nilai, Pustaka bani quraisy, Bandung 2006

Niliai absolute atau peubah

Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku .  Misalnya nilai kasih sayang dan kemurahan hati adalah untuk semua manusia dimanapun dan kapanpun manusia hidup. Allah maha pengampun, maha pemberi rezeki, merupakan nilai absolute yang dimiliki-Nya. Karena siapapun, apakah ia muslim atau bukan muslim, dimanapun berada manusia akan menerimanya,. sama halnya dengan  ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan sudah ada sejak masa lampau dan apabila suatu ilmu sudah terbentuk maka ilmu tersebut sampai kapanpun tidak akan pernah hilang misalnya ilmu matematika  mulai dari awal terbentuk sampai sekarang ilmu tersebut tetap digunakan oleh siapapun.

Jadi dapat ditarik kesimpulan didalam aksiologi ilmu pengetahuan yaitu teori nilai yang membahas atau menilai suatu ilmu pengetahuan menurut penilaian-penilaian yang sudah dijelaskan diatas.

Categories: filsafat Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: